-->

Mengapa JF-17 Menjadi Primadona Pasar Pesawat Tempur Saat Ini?

- Januari 11, 2026
Minat global terhadap pesawat tempur JF‑17 Thunder mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Banyak negara kini melihat JF‑17 bukan sekadar sebagai pesawat tempur, melainkan sebagai bagian dari strategi pertahanan dan diplomasi.

Sejarah mencatat bahwa JF‑17 diciptakan sebagai produk bersama Pakistan dan Tiongkok, sehingga posisinya mirip dengan F‑5 pada era Perang Dingin. Saat itu, F‑5 digunakan untuk menandingi jet ringan seperti MiG‑21 dan J‑7. Demikian juga, JF‑17 kini hadir sebagai alternatif modern untuk negara-negara yang memerlukan pesawat ringan dan efektif.

Salah satu daya tarik utama JF‑17 adalah ketersediaannya sebagai produk yang sudah jadi. Pembeli tidak harus menunggu bertahun-tahun seperti halnya pengadaan KAAN dan Hurjet buatan Turkiye, Su‑57 Rusia atau KF‑21 Boramae Korea Selatan, yang harganya setara F‑35 namun belum sepenuhnya siap produksi massal. Kasus Bangladesh menegaskan hal ini; meski sudah memesan Eurofighter, mereka tetap memilih JF‑17 karena segera tersedia.

Selain itu, JF‑17 diminati oleh negara-negara yang hampir mustahil membeli pesawat Barat karena keterbatasan geopolitik atau embargo militer, seperti Libya, Nigeria, dan beberapa negara Afrika lainnya. Pesawat ini menjadi solusi realistis untuk mempertahankan kemampuan udara tanpa menimbulkan gesekan politik besar.

Beberapa negara membeli JF‑17 bukan semata karena spesifikasinya, melainkan sebagai bagian dari kerjasama pertahanan dengan Pakistan, negara yang memiliki status nuklir. Arab Saudi misalnya, mempertimbangkan JF‑17 sebagai bagian dari diversifikasi alutsista sambil memanfaatkan hubungan strategis dengan Islamabad.

Dibandingkan dengan opsi lain, JF‑17 memiliki kombinasi harga dan kapabilitas yang seimbang. Meski ada pesawat lebih murah seperti J‑9 buatan Tiongkok, JF‑17 dianggap lebih mumpuni dalam hal avionik, kemampuan multirole, dan dukungan logistik. Hal ini menjadikannya pilihan yang realistis bagi angkatan udara dengan anggaran terbatas.

Ketertarikan terhadap JF‑17 juga muncul dari negara yang sebelumnya menaruh minat pada J‑10 Tiongkok, tetapi menghadapi hambatan geopolitik karena membeli platform murni Tiongkok. Mesir, misalnya, lama tertarik pada JF‑17 sebagai alternatif yang lebih fleksibel secara politik.

Selain itu, JF‑17 memiliki kemampuan modern seperti radar multimode, kemampuan membawa rudal udara-ke-udara dan udara-ke-permukaan, serta kinerja manuver yang memadai. Hal ini menjadikannya cukup untuk operasi multirole di wilayah dengan ancaman campuran, tanpa perlu membeli jet tempur kelas F‑16 atau Su‑30 yang jauh lebih mahal.

Faktor lain yang mendorong minat adalah reputasi Pakistan sebagai operator JF‑17. Pengalaman tempur Pakistan dan kesiapan dukungan logistik menunjukkan bahwa JF‑17 bukan sekadar prototipe, tetapi platform yang terbukti digunakan dalam operasi nyata.

Selain Pakistan dan Tiongkok, negara-negara mitra juga mendapatkan keuntungan dari transfer teknologi terbatas dan pelatihan. Ini menambah nilai bagi negara-negara yang ingin membangun kemampuan domestik mereka secara bertahap.

Dalam beberapa kasus, JF‑17 dipilih karena memberikan fleksibilitas geopolitik. Negara pembeli bisa menghindari ketergantungan penuh pada Barat atau Rusia, sambil tetap mendapatkan sistem tempur modern yang cukup handal.

Negara-negara seperti Myanmar dan Nigeria telah menunjukkan ketertarikan terhadap JF‑17 karena kombinasi harga, kesiapan produksi, dan dukungan pelatihan. Hal ini menjadikan JF‑17 salah satu jet tempur ringan paling kompetitif di pasar global.

Selain itu, JF‑17 dapat dikonfigurasi sesuai kebutuhan pembeli, mulai dari versi standar hingga versi Block III dengan avionik terbaru dan kemampuan stealth terbatas. Fleksibilitas ini menarik bagi negara yang ingin menyesuaikan pesawat dengan kebutuhan taktis mereka.

Perbandingan dengan jet lain, seperti Su‑57 Rusia atau KF‑21 Korea Selatan, menegaskan bahwa kecepatan pengadaan menjadi faktor penting. Jet yang sudah siap produksi, meski tidak setara F‑35, lebih cepat meningkatkan kemampuan tempur daripada menunggu prototipe generasi terbaru.

Minat lain muncul dari negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara yang ingin memperkuat pertahanan udara dengan biaya terjangkau. JF‑17 memenuhi kriteria ini, sehingga penjualan ke kawasan ini diprediksi meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam konteks Asia Selatan, JF‑17 dianggap sebagai simbol kerjasama strategis Pakistan-Tiongkok. Ini memberikan nilai politik tambahan bagi negara pembeli, terutama yang ingin menjaga keseimbangan kekuatan regional.

Negara-negara Afrika juga menilai JF‑17 sebagai alternatif dari jet bekas Barat, yang terkadang memerlukan perawatan intensif dan biaya tinggi. Pesawat ini menawarkan platform modern dengan biaya operasi yang relatif lebih rendah.

Selain itu, kemampuan multirole JF‑17 memungkinkan negara-negara pengguna menghemat anggaran karena satu platform bisa menjalankan misi udara-ke-udara, udara-ke-permukaan, dan pengintaian.

Faktor terakhir yang mendukung popularitas JF‑17 adalah reputasi Pakistan dalam menyediakan dukungan logistik dan pelatihan. Negara pembeli tidak hanya mendapatkan pesawat, tetapi juga sistem pendukung yang lengkap untuk operasional jangka panjang.

Dengan kombinasi faktor politik, ekonomi, kesiapan produksi, dan kapabilitas, JF‑17 menjadi primadona baru di pasar pesawat tempur global. Banyak negara melihatnya sebagai opsi realistis untuk meningkatkan kemampuan udara tanpa harus menunggu jet tempur generasi kelima atau menghadapi hambatan geopolitik.

Ke depan, permintaan terhadap JF‑17 diperkirakan akan terus meningkat, terutama dari negara-negara yang membutuhkan pesawat multirole siap pakai, dengan harga terjangkau, dan dukungan politik serta logistik yang jelas dari Pakistan.

Advertisement