-->

Tantangan Penanganan Hunian Pengungsi Suriah Pasca Hujan Lebat

- Februari 08, 2026
Hujan deras kembali memicu banjir di kawasan pedesaan Idlib, Suriah barat laut, yang menjadi lokasi utama kamp-kamp pengungsi. Peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan di kalangan publik, mengingat Idlib dikenal sebagai wilayah berbukit dan pegunungan yang secara alami seharusnya cepat mengalirkan air hujan.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kondisi geografis Idlib justru menyimpan kerentanan tersembunyi. Wilayah ini berada di dataran tinggi Jabal al-Zawiya dan kaki Pegunungan Ansariyah, yang dipenuhi lembah-lembah kering musiman atau wadi. Saat hujan deras turun dalam waktu singkat, wadi tersebut berubah menjadi alur banjir.

Air hujan dari wilayah barat dan barat daya Idlib umumnya mengalir ke arah Latakia melalui Pegunungan Ansariyah sebelum akhirnya bermuara ke Laut Mediterania. Namun, aliran ini tidak langsung dan cepat, melainkan melewati jalur sempit, berliku, dan bertingkat yang kerap menahan air sementara.

Sebagian wilayah Idlib selatan juga mengalirkan air ke arah Hama melalui cekungan Sungai Orontes atau Nahr al-Asi. Wilayah ini relatif lebih landai, sehingga air yang turun dari dataran tinggi Idlib sering tertahan dan membentuk genangan luas sebelum bergerak lebih jauh.

Hampir tidak ada aliran langsung dari Idlib menuju Homs. Kota Homs menerima suplai air dari bagian tengah Sungai Orontes, bukan dari sistem aliran Idlib, sehingga banjir di Idlib tidak berkontribusi langsung ke wilayah tersebut.

Fenomena banjir di wilayah pegunungan ini diperparah oleh meningkatnya intensitas hujan ekstrem dalam beberapa tahun terakhir. Curah hujan turun dalam durasi singkat dengan volume tinggi, membuat tanah tidak sempat menyerap air secara alami.

Kondisi tanah Idlib juga mengalami degradasi berat akibat konflik panjang. Penebangan hutan, rusaknya lahan pertanian, dan minimnya vegetasi penahan membuat permukaan tanah menjadi keras dan licin, sehingga air hujan langsung mengalir di permukaan.

Masalah lain yang krusial adalah lokasi kamp pengungsi yang banyak dibangun di dasar wadi atau area cekungan. Pemilihan lokasi ini awalnya dilakukan karena lahan yang relatif datar dan mudah diakses, namun secara hidrologis merupakan jalur banjir alami.

Ketika hujan besar datang, air dari perbukitan sekitar mengalir dan berkumpul tepat di area kamp. Tenda-tenda yang bersifat sementara tidak memiliki perlindungan struktural untuk menghadapi arus air yang deras.

Ketiadaan sistem drainase menjadi faktor penentu lain. Di banyak kawasan pedesaan Idlib, tidak terdapat kanal air permanen, saluran beton, atau waduk penahan yang mampu mengarahkan aliran hujan secara aman.

Pembangunan sistem pengendali banjir di wilayah pegunungan memerlukan biaya besar dan perencanaan teknis yang matang. Dalam kondisi Suriah yang terpecah akibat konflik, kemampuan tersebut nyaris tidak tersedia.

Keamanan juga menjadi kendala utama. Infrastruktur permanen seperti kanal dan bendungan kecil membutuhkan perawatan rutin, sementara wilayah Idlib masih rentan terhadap ketegangan militer dan instabilitas.

Selain itu, pengelolaan wilayah yang terfragmentasi membuat tidak adanya otoritas nasional yang mampu mengatur sistem aliran air lintas provinsi, dari Idlib ke Latakia atau Hama, secara terpadu.

Selama bertahun-tahun, kamp pengungsi dianggap sebagai solusi sementara. Paradigma ini menyebabkan lembaga kemanusiaan lebih fokus pada bantuan darurat seperti tenda dan logistik, bukan infrastruktur jangka panjang.

Akibatnya, setiap musim hujan membawa siklus penderitaan yang sama. Banjir merusak tenda, menghanyutkan barang-barang, dan memperburuk kondisi kesehatan serta pendidikan anak-anak pengungsi.

Banjir berulang ini bukan sekadar bencana alam, melainkan cerminan krisis struktural yang belum teratasi. Kombinasi faktor geografis, kerusakan lingkungan, dan lemahnya tata kelola menciptakan risiko yang terus berulang.

Warga kamp menyebut bahwa air tidak datang dari satu arah, melainkan dari seluruh bukit di sekitar mereka. Dalam hitungan jam, lembah yang kering berubah menjadi arus deras yang tak terbendung.

Di tengah keterbatasan, upaya penanganan sering bersifat darurat. Air dipompa seadanya, jalur kecil digali manual, namun tidak cukup untuk menghadapi hujan berskala besar.

Para pengamat menilai solusi jangka panjang hanya bisa dicapai dengan pembangunan kanal sederhana, kolam retensi kecil, dan relokasi kamp dari jalur wadi. Namun semua itu memerlukan stabilitas dan pendanaan.

Selama konflik belum sepenuhnya berakhir dan rekonstruksi menyeluruh belum dimulai, banjir di kamp pengungsi Idlib kemungkinan akan terus terulang, menjadikan musim hujan sebagai ancaman yang sama beratnya dengan perang itu sendiri.

Advertisement