Tiongkok memiliki kemampuan industri untuk membangun kapal perang modern, tetapi modernisasi kapal-kapal lama peninggalan Uni Soviet tetap menjadi pilihan yang patut diperhitungkan. Salah satu gagasan yang menarik adalah mengubah bekas kapal induk Soviet, Kiev dan Minsk, menjadi kapal induk nirawak atau drone carrier yang dapat mendukung operasi militer modern tanpa harus mengoperasikan pesawat tempur berawak.
Gagasan tersebut muncul dari pertanyaan mendasar mengenai pemanfaatan aset militer lama. Jika Tiongkok mampu memperbarui persenjataan kapal perusak Soviet Project 956, mengapa kapal induk Soviet yang sudah dialihkan menjadi objek wisata tidak dipertimbangkan untuk memperoleh fungsi baru sebagai pangkalan udara bagi drone militer?
Kapal perusak Project 956 dan kapal induk kelas Kiev memiliki karakteristik berbeda. Kapal perusak yang masih dipertahankan dalam dinas dapat menjalani penggantian radar, sensor, persenjataan, dan sistem elektronik. Sementara itu, kapal induk yang telah lama berhenti beroperasi memerlukan pemeriksaan dan kemungkinan rekonstruksi jauh lebih menyeluruh.
Tiongkok diketahui mengoperasikan empat kapal perusak dari keluarga Project 956, yang dibuat Rusia untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok. Dua di antaranya merupakan varian Project 956E, yakni Hangzhou dan Fuzhou, sedangkan Taizhou dan Ningbo merupakan varian Project 956EM.
Modernisasi kapal-kapal tersebut menunjukkan bagaimana platform lama masih dapat dimanfaatkan dengan mengganti sejumlah sistem tempur menggunakan teknologi Tiongkok. Langkah ini juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap persenjataan dan suku cadang Rusia, sekaligus membantu mempertahankan jumlah kapal tempur yang tersedia.
Kebijakan tersebut bukan berarti Tiongkok tidak mampu membangun kapal perang baru. Negara itu telah mengembangkan kapal perusak modern, termasuk Type 052D dan Type 055, serta membangun kemampuan operasional kapal induk melalui program pengembangan armadanya sendiri.
Modernisasi kapal lama dan pembangunan kapal baru dapat berjalan beriringan. Kapal yang masih layak dapat dipertahankan untuk menjalankan tugas tertentu, sedangkan kapal generasi baru digunakan untuk misi yang menuntut kemampuan sensor, persenjataan, dan integrasi jaringan tempur lebih maju.
Pertimbangan serupa dapat diterapkan pada bekas kapal induk Soviet Kiev dan Minsk. Keduanya pernah digunakan sebagai atraksi wisata di Tiongkok setelah tidak lagi menjalankan fungsi militer. Namun, mengembalikannya ke laut sebagai kapal perang aktif akan menghadirkan tantangan yang jauh lebih besar daripada memperbarui kapal perusak yang masih beroperasi.
Kapal Kiev pernah dikembangkan menjadi atraksi wisata di Tianjin, sementara Minsk sempat menjadi taman hiburan militer di Shenzhen sebelum dipindahkan ke Nantong. Perjalanan panjang kedua kapal dari aset militer menjadi objek wisata memperlihatkan bahwa pemanfaatan kembali untuk kepentingan pertahanan tidak bisa dilakukan tanpa evaluasi teknis yang mendalam.
Meskipun demikian, perubahan fungsi menjadi kapal induk drone menawarkan pendekatan berbeda dibandingkan menghidupkan kembali kapal induk konvensional. Tiongkok tidak perlu mempersiapkan kapal tersebut untuk mengoperasikan jet tempur berawak seperti J-15, sehingga kebutuhan terhadap fasilitas penerbangan tertentu dapat berkurang.
Kapal induk drone dapat berfungsi sebagai pangkalan bergerak untuk meluncurkan, mengendalikan, dan mendukung berbagai jenis pesawat nirawak. Platform ini berpotensi memperluas jangkauan pengawasan maritim, membantu pencarian sasaran, mendukung komunikasi, serta menjalankan misi peperangan elektronik.
Drone pengintai dapat digunakan untuk memantau wilayah laut yang luas dan mengirimkan informasi kepada kapal perang lain. Dalam operasi armada, informasi semacam itu dapat membantu meningkatkan kesadaran situasional serta mendukung pengambilan keputusan oleh komandan.
Selain pengintaian, kapal induk drone berpotensi mendukung operasi drone tempur dan drone serang satu arah. Namun, pelaksanaan misi tersebut akan bergantung pada jenis drone yang digunakan, sistem kendali, jaringan komunikasi, aturan penggunaan senjata, serta kemampuan kapal mengintegrasikan informasi dari berbagai sensor.
Kebutuhan terhadap dek penerbangan juga tidak sepenuhnya hilang meskipun pesawat berawak tidak lagi menjadi prioritas. Drone bersayap tetap memerlukan metode peluncuran dan pemulihan yang sesuai, sementara drone helikopter atau multirotor mempunyai kebutuhan operasional berbeda. Karena itu, desain ulang dek, hanggar, fasilitas perawatan, dan pusat kendali tetap diperlukan.
Persoalan berikutnya adalah kondisi teknis kapal. Kiev dan Minsk telah lama tidak menjalankan tugas sebagai kapal perang, sehingga kelayakan lambung, mesin, sistem kelistrikan, serta perlengkapan keselamatan harus diperiksa. Khusus Minsk, kebakaran besar yang terjadi pada Agustus 2024 menambah ketidakpastian mengenai biaya dan tingkat kesulitan rekonstruksinya.
Jika struktur kapal masih cukup baik, mempertahankan lambung yang sudah tersedia mungkin menawarkan keuntungan. Tiongkok berpotensi memanfaatkan ruang internal yang luas dan dek penerbangan yang sudah ada, lalu menyesuaikan fasilitasnya untuk mendukung operasi pesawat nirawak.
Namun, usia kapal menjadi faktor penting. Sistem penggerak yang telah lama tidak beroperasi dapat memerlukan perbaikan besar, sedangkan perubahan instalasi elektronik dan fasilitas penerbangan mungkin membutuhkan pembongkaran sebagian struktur internal. Biaya rekonstruksi juga dapat meningkat apabila ditemukan kerusakan yang sebelumnya tidak terlihat.
Pengalaman India mengubah bekas kapal Soviet Admiral Gorshkov menjadi INS Vikramaditya menunjukkan bahwa rekonstruksi kapal induk memang mungkin dilakukan. Akan tetapi, proyek tersebut membutuhkan pekerjaan besar untuk menyesuaikan kapal dengan kebutuhan penerbangan dan operasi angkatan laut India. Contoh itu sekaligus memperlihatkan bahwa menghidupkan kembali kapal induk lama bukanlah pekerjaan sederhana.
Tiongkok sendiri telah mengembangkan kemampuan pembangunan kapal perang dan kapal induk modern. Karena itu, Beijing dapat membandingkan biaya menghidupkan kembali Kiev atau Minsk dengan membangun kapal nirawak baru yang sejak awal dirancang untuk membawa drone, menyediakan fasilitas pemeliharaan, dan mengintegrasikan jaringan kendali modern.
Kapal baru menawarkan keleluasaan desain, tetapi membutuhkan investasi dan waktu pembangunan. Sebaliknya, kapal lama menyediakan platform yang sudah ada, tetapi kondisi fisiknya dapat menimbulkan biaya tambahan. Tanpa survei teknis dan perhitungan anggaran yang terbuka, belum ada dasar kuat untuk menyatakan bahwa salah satu pilihan pasti lebih murah.
Pada akhirnya, gagasan menjadikan Kiev dan Minsk sebagai kapal induk drone merupakan kemungkinan yang menarik, bukan bukti bahwa Tiongkok sedang menjalankan program tersebut. Nilai strategisnya terletak pada upaya mencari fungsi baru bagi aset lama, sementara keberhasilannya akan ditentukan oleh kelayakan teknis, biaya, dan kebutuhan operasional angkatan laut.
Jika rekonstruksi terbukti layak, kapal induk drone berbasis lambung lama berpotensi menjadi tambahan bagi armada pendukung Tiongkok. Jika tidak, pembangunan kapal khusus dari awal mungkin lebih masuk akal. Perdebatan ini menunjukkan bahwa dalam perkembangan kekuatan laut modern, pertanyaannya bukan hanya seberapa canggih kapal yang dapat dibangun, melainkan juga bagaimana aset yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efektif untuk menghadapi kebutuhan peperangan masa depan.
Baca selanjutnya
Advertisement