Isu kunjungan Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud ke Las Anod pada pertengahan Januari 2026 memicu perdebatan tajam di ruang publik internasional. Sejumlah pihak, terutama media dan analis yang berpihak pada Somaliland, menyebut kunjungan tersebut sebagai tindakan “penyelundupan” yang dilakukan secara diam-diam dan provokatif. Namun klaim ini segera dibantah oleh banyak pihak dengan dasar hukum dan fakta di lapangan.
Secara hukum internasional, Somalia tetap diakui sebagai negara berdaulat dengan wilayah yang mencakup Somaliland. Meski Somaliland telah memproklamasikan pemisahan diri sejak 1991, hingga kini hanya satu negara yang secara terbuka mengakuinya, yakni Israel. Di luar itu, komunitas internasional masih memandang Somaliland sebagai bagian dari Somalia.
Atas dasar itu, kunjungan Presiden Somalia ke Las Anod tidak dapat dikategorikan sebagai penyelundupan. Seorang kepala negara tidak dapat dianggap “menyusup” ke wilayah yang secara hukum masih merupakan bagian dari negaranya sendiri, meskipun wilayah tersebut dipersengketakan secara politik.
Presiden Hassan Sheikh Mohamud datang ke Las Anod dalam rangka menghadiri pelantikan presiden negara bagian SSC-Khatumo, sebuah entitas federal yang berada di bawah kerangka Republik Federal Somalia. Kunjungan ini bersifat resmi, terbuka, dan tercatat dalam agenda kenegaraan Somalia.
Narasi “penyelundupan” tersebut mencuat luas setelah beredarnya potongan video wawancara di stasiun televisi Israel i24NEWS, program MiddleEastNow. Video itu kemudian disebarluaskan ulang melalui media sosial, salah satunya oleh akun X @SomaliGuardian pada 19 Januari 2026.
Dalam wawancara tersebut, pembawa acara Laura Cellier mewawancarai Salma Abdirahman Sheikh, Pemimpin Redaksi The Somaliland Review Magazine. Salma mengklaim bahwa Presiden Somalia telah “menyelundupkan dirinya” ke Las Anod, bahkan membawa pejabat tinggi dan delegasi asing.
Salma menyebut kunjungan itu dilakukan dengan menggunakan pesawat kecil secara berulang karena keterbatasan bandara Las Anod. Ia juga menuduh kehadiran Presiden Somalia bertujuan mendukung kelompok pemberontak dan memancing perang dengan Somaliland.
Namun klaim tersebut bertolak belakang dengan fakta lapangan. Kunjungan Presiden Somalia berlangsung selama sekitar tiga hari dan disambut secara terbuka oleh ribuan warga. Foto dan video yang beredar luas menunjukkan kerumunan besar di bandara Las Anod tanpa adanya insiden keamanan berarti.
Delegasi yang menyertai Presiden Somalia juga bukan tokoh sembarangan. Hadir sejumlah menteri senior, anggota parlemen federal, tokoh politik nasional, serta diplomat dari Turki, Arab Saudi, dan Sudan. Kehadiran mereka semakin menegaskan bahwa kunjungan tersebut adalah resmi, bukan operasi rahasia.
Banyak kalangan pro-pemerintah federal Somalia menilai pernyataan dalam wawancara i24NEWS tersebut sebagai bentuk disinformasi dan propaganda politik. Mereka menuduh narasi “penyelundupan” sengaja dibangun untuk merendahkan legitimasi pemerintah Somalia.
Akun @SomaliGuardian sendiri menegaskan bahwa menyebut kunjungan itu sebagai “smuggled” adalah manipulasi istilah. Menurut mereka, penyelundupan identik dengan tindakan ilegal dan tersembunyi, sementara kunjungan Presiden Somalia justru dilakukan secara terang-terangan.
Kontroversi ini muncul di tengah ketegangan politik yang masih berlangsung antara pemerintah federal Somalia dan otoritas Somaliland. Las Anod, yang berada di wilayah Sool, menjadi titik sensitif karena diklaim Somaliland namun saat ini dikuasai oleh pasukan federal Somalia dan otoritas SSC-Khatumo.
Bagi pendukung Somaliland, kunjungan Presiden Somalia ke wilayah tersebut dipandang sebagai provokasi politik. Namun bagi pemerintah Somalia, kehadiran presiden justru dianggap sebagai penegasan kedaulatan negara dan dukungan terhadap struktur federal yang sah.
Fakta bahwa Somaliland baru diakui oleh satu negara juga memperlemah klaim eksklusifnya atas wilayah tersebut. Dalam hukum internasional, pengakuan sepihak tidak otomatis menghapus klaim negara asal atas wilayah yang disengketakan.
Wawancara di i24NEWS itu juga dinilai sarat konteks geopolitik. Dugaan kedekatan Somaliland dengan Israel menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk aktor regional seperti Yaman dan negara-negara di Tanduk Afrika.
Dalam wawancara tersebut, Salma Sheikh bahkan menyebut kunjungan Presiden Somalia sebagai “publicity stunt” yang gagal. Ia mengklaim bahwa peristiwa itu hanya mendapat perhatian di media sosial lokal seperti TikTok dan YouTube.
Namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Kunjungan tersebut dilaporkan oleh berbagai media regional dan internasional, serta memicu diskusi luas tentang masa depan hubungan Somalia dan Somaliland.
Sejumlah analis menilai narasi “penyelundupan” lebih mencerminkan konflik narasi ketimbang realitas. Dalam konflik Somalia–Somaliland, perang informasi sering kali menjadi alat untuk memengaruhi opini publik internasional.
Bagi pemerintah Somalia, kunjungan ke Las Anod adalah pesan politik bahwa negara federal tetap hadir dan berfungsi. Ini sekaligus menegaskan bahwa penyelesaian konflik wilayah akan ditempuh dalam kerangka konstitusi Somalia.
Kontroversi ini menunjukkan betapa sensitifnya isu legitimasi dan kedaulatan di Tanduk Afrika. Setiap kunjungan pejabat tinggi dapat dengan cepat dipelintir menjadi narasi provokasi atau konspirasi.
Pada akhirnya, secara hukum dan fakta, Presiden Somalia tidak melanggar aturan apa pun dengan berkunjung ke Las Anod. Narasi “penyelundupan” lebih tepat dipahami sebagai bagian dari pertarungan politik dan propaganda di tengah konflik Somalia–Somaliland yang belum selesai.
Advertisement